Perginya Maestro Rabab Pariaman Terakhir
Kamis pagi 24 September 2026 waktu Leiden, saya melihat ada pesan dari Yeyen Darmawan, M.Sn. dari Komunitas Film Pariaman di HP saya. Isi pesan itu sangat mengejutkan.
“Innalillahi wa inailaihi rojiun. Telah berpulang Bapak kita sang Maestro Rabab Galuak, Bapak Utiah Monen[,] pagi ini di Salibutan. Mari sama-sama kita tunduk[k]an kepada dan berdoa untuk beliau[,] semoga Almarhum tenang disisiNya (sic). Kami segenap keluarga Mozaik Lab menyampaikan duka sebesar-besarnya atas kehilangan sosok inspirasi (sic) yang sudah menemani kita selama berkarya mencari ‘jejak Rabab Galuak’ kemarin.”

***
Saya segera menghubungi Yeyen dan segera mendapat informasi yang lebih jelas: Uda Monen, demikian saya memanggil beliau, wafat pukul 11.00 WIB di Rumah Sakit Pariaman karena mengalami sesak napas. Jenazah kemudian segera dibawa ke rumah beliau di Gamaran Salibutan, Lubuak Aluang.
Saya merasa sangat sedih karena tidak sempat berjumpa lagi dengan Uda Monen. Ketika berada di Indonesia bulan Juli dan Agustus lalu, saya tidak sempat pula berjumpa dengan beliau. Kini beliau sudah pergi untuk selamanya. Innalillahi wainnailaihi rajiun!
Monen adalah tukang Rabab Pariaman profesional terakhir yang masih ada. Kini beliau telah mengikuti para senior beliau ke alam baka: Bagindo Sukiman, Aly Umar, Mayur, dan Amir Hosen. Kematian beliau dalam usia 71 tahun meninggalkan kabar duka bagi masyarakat Pariaman khususnya dan Minangkabau serta Indonesia pada umumnya. Kepergian beliau untuk selamanya bermakna kesenian/sastra lisan Rabab Pariaman sudah ‘punah’. Maestro Rabab Pariaman terakhir itu telah dipanggil Tuhan tanpa meninggalkan seorang pun pengganti yang menyalin repertoar-repertoar Rabab Pariaman yang tersimpan di kepalanya.
Menurut Yeyen Darmawan, yang dengan beberapa kawanya dalam tahun terakhir ini berupaya mendokumentasikan Rabab Pariaman, tidak ada lagi tukang Rabab Pariaman (Rabab Galuak) profesional yang tersisa. Monen adalah maestro Rabab Pariaman yang terakhir. Beliau menguasai semua repertoar sastra lisan ini: “Jalan Kuliliang Bilang Nagari”, “Kaba Gombang Patuanan|”, “Kaba Sutan Binualim”, “Kaba Sutan Pangaduan” dan “Kaba Siti Baheram” (lihat: https://niadilova.wordpress.com/2009/11/09/siti-baheram-dari-peristiwa-nyata-ke-kaba/; diakses26-09-2026). Memang ada seorang anak Monen yang mencoba belajar Rabab Pariaman, tapi dia sudah berhenti memainkan Rabab Pariaman dan dia masih belum bisa mendendangkan repoertoar-repertoar Rabab Pariaman berupa kaba.
Lahir di Pasia Laweh, Lubuak Aluang, 1 Juli 1955, Monen belajar Rabab Pariaman dari saudaranya, Amir Hosen, yang sudah lebih dahulu meninggal (2014). Sebagian hidup Monen dihabiskan di kampungnya. Sehari-hari Monen tinggal di kampung istrinya di Gamaran Salibutan, tak jauh dari desa kelahirannya, Pasia Laweh–keduanya masih di daerah Lubuak Aluang, Kabupaten Padang Pariaman. Amir Hosen sendiri belajar Rabab Pariaman dari ayahnya.
Sebagaimana sudah saya jelaskan dalam tulisan saya “Rabab Pariaman” dalam Indonesian Heritage Series Vol. 10 terbitan Yayasan Lontar (1998), hlm. 66-67, juga dalam Jurnal Seni (ISI Yogyakarta), No. 1-2, 1996, hlm. 82-96, dengan judul “Rabab Pariaman: Satu Ragam Seni Bercerita di Pesisir Barat Minangkabau”, Rabab Pariaman adalah sebuah genre sastra lisan Minangkabau yang hanya terdapat di Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat. Repertoarnya sangat terbatas, sebagaimana disebutkan di atas. “Kaba Nan Gombang Patuanan”, misalnya, sangat panjang dan memerlukan penceritaan bermalam-malam. Alat musiknya, yaitu rabab galuak, sangat khas dan mengeluarkan bunyi yang terasa magis.
Oleh karena sifatnya yang khas itu, yang sulit adaptif dengan perkembangan zaman, seperti Rabab Pesisir Selatan, maka proses regenerasi tukang Rabab Pariaman sangat sulit. Tampaknya tak ada anak muda lain selain seorang anak Monen sendiri, yang sayangnya juga sudah berhenti memainkan Rabab Pariaman, yang ingin belajar Rabab Pariaman secara serius sampai berhasil menguasai seluruh repertoar Rabab Pariaman. Demikian penjelasan Yeyen Darmawan kepada saya.

Sebagai Maestro Rabab Pariaman terakhir, Monen telah banyak membantu orang-orang yang ingin mengetahui sastra lisan Minangkabau yang memiliki keindahan musikal dan naratif yang luar biasa ini, termasuk mereka yang ingin mengetahuinya untuk kepentingan akademis. Saya sendiri banyak berutang budi kepada Uda Monen. Demikianlah, umpamanya, selama melakukan penelitian untuk disertasi saya yang kemudian dibukukan (lihat: Suryadi, Audible Locality: The Recording Industry in Indonesia and Its Approach to Minangkabau Music and Oral Tradtition, Bangi: Institute of Ethnic Studies, University Kebangsaan Malaysia, 2020), saya banyak mendapatkan informasi yang berharga dari beliau.
Monen juga banyak membantu peneliti-peneliti lainnya, seperti Witnayetti, Hadjizar, Philip Yampolsky, dan Irfan Kurniawan. Sebelum kepergian Monen, saya masih berambisi untuk menulis sebuah buku yang agak serius tentang sastra lisan Rabab Pariaman dengan berfokus pada pertunjukan Monen, kalaulah tidak mungkin sehebat yang dilakukan Ben Arps terhadap pertunjukan wayang kulit dari dalang kondang Ki Anom Suroto (lihat: Ben Arps, Tall tree, nest of the wind: the Javanese shadow-play Dewa Ruci performed by Ki Anom Suroto: a study in performance philology, Singapore: NUS Press, [2015]). Namun, niat itu belum juga kesampaian karena kesibukan sehari-hari saya sebagai mengajar di Department of South and Southeast Asian Studies, Universiteit Leiden, dan karena sulitnya mencari waktu yang cukup panjang untuk melakukan studi lapangan di Indonesia (Pariaman).
Tahun 2017 saya sudah merasakan ‘senjakala’ Rabab Pariaman (lihat: https://niadilova.wordpress.com/2017/03/13/rabab-pariaman-senjakala-sebuah-genre-sastra-lisan-minangkabau/; diakses 26-09-2026). Dengan wafatnya Uda Monen, kekhawatiran saya itu kini tampaknya jadi kenyataan.
Saya teringat dengan kata-kata peneliti tradisi lisan kenamaan, Ruth Finnegan: Bila seorang penutur sastra lisan meninggal, itu berarti sebuah ‘perpustakaan’ habis terbakar. Kini itu yang terjadi terhadap sastra lisan Minangkabau, Rabab Pariaman. Kepergian Uda Monen, sang maestro terakhir, memupus harapan kelangsungan hidup genre sastra lisan ini.
Beruntung, pertunjukan-pertunjukan Rabab Pariaman yang dibawakan Monen, juga saudaranya Amir Hosen, tersimpan di YouTube, yang merupakan pengalihmediaan rekaman-rekaman komersial mereka dalam format kaset dan VCD yang diproduksi oleh beberapa industri rekaman Sumatera Barat di Padang (lihat penjelasannya dalam buku saya Audible Locality, hlm. 228-230). Demikianlah, umpamanya, rekaman komersialnya tentang “Kaba Nan Gombang Patuanan” produksi Sinar Padang Record (awal 2000-an) kini tersedia di YouTube (lihat misalnya: https://www.youtube.com/watch?v=LJGzwGaN3-Q; diakses 26-09-2026). Demikian juga pertunjukan non kaba “Raun Sabalik Bilang Nagari” (lihat: https://www.youtube.com/watch?v=YuIt7t-NaMY; diakses 26-09-2026).

Saya berharap masyarakat Pariaman yang masih menyimpan kaset-kaset dan VCD-VCD komersial Rabab Pariaman berkenan meminjamkannya kepada saya untuk kemudian direproduksi. Saya juga mengimbau pihak-pihak yang masih peduli dengan pelestarian kebudayaan tradisional Minangkabau, baik unsur perguruan tinggi maupun praktisi, untuk memikirkan upaya-upaya penyelamatan jejak sastra lisan Rabab Pariaman yang masih tersisa di dunia maya atau dalam bentuk rekaman komersial. Semoga ada perpustakaan di Sumatera Barat yang berinisiatif untuk menyimpannya.
Harapan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Padang Pariaman sendiri tentu digantungkan tinggi-tinggi. Walau belum tampak adanya ucapan belasungkawa dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Padang Pariaman atas kepergian Monen (lihat: https://padangpariamankab.go.id/blog/arsip/2026-09; diakses 26-09-2026), kita yakin Pemkab Padang Pariaman (c.q. Dinas Kebudayaannya) tentu peduli terhadap pelestarian dan kelangsungan hidup genre-genre kesenian tradisional daerah ini, seperti Rabab Pariaman, Indang, Salawaik Dulang, dan Baikayaik. Sebab genre-genre sastra lisan/kesenian tradisional itu adalah salah satu inang tempat dipertahankannya identitas masyarakat Pariaman.
Menciptakan seorang maestro Rabab Pariaman sehebat Monen mungkin sangat sulit. Namun, jika generasi-generasi mendatang masih bisa menonton dan mendengarkan pertunjukan sastra lisan Minangkabau dari Rantau Pariaman yang khas ini melalui rekaman-rekaman lengkap pertunjukan Monen dan para maestro Rabab Pariaman lainnya yang disimpan dengan baik di perpustakaan[-perpustakaan] kita, mungkin setidaknya itu dapat menunda hapus totalnya genre sastra lisan Minangkabau yang indah ini dari memori kolektif masyarakat Pariaman.
Suryadi, Staf Pengajar dan Peneliti di Universitas Leiden, Belanda
