MAK YONG KEKE: Antara Regenerasi dan Harapan
Jumat malam, 4 September 2026, arena pertunjukan teater tradisi Mak Yong di kota Kijang, Bintan, Kepulauan Riau (Kepri), terasa hidup. Lebih dari 200 penonton memenuhi arena.
Bagi sebuah pertunjukan tradisi seperti Mak Yong, jumlah penonton sebanyak itu tentu menggembirakan. Ini menunjukkan bahwa Mak Yong belum kehilangan tempat di tengah masyarakat. Pertunjukan malam itu dimainkan oleh kelompok Mak Yong Keke di bawah kepemimpinan Tengku Muhammad Satar. Bagi saya pribadi, perjumpaan dengan Mak Yong Keke malam itu terasa istimewa. Setelah sekitar 20 tahun tidak menyaksikan pertunjukan mereka, saya kembali duduk sebagai penonton.
Terakhir kali saya menyaksikan persembahan mereka sekitar tahun 2006, ketika itu persembahannya bergabung dengan kelompok Mak Yong Mantang Arang pimpinan Pak Khalid (alm). Saat itu saya bertugas mencatat gerak tarinya. Oleh karena itu, pertemuan kembali dengan Mak Yong Keke setelah rentang waktu yang cukup panjang tentu membawa kenangan tersendiri. Sekaligus muncul pertanyaan sederhana: sejauh mana Mak Yong telah berkembang selama dua puluh tahun terakhir? Jawabannya ternyata tidak sederhana.
Sebagai catatan pengingat, Mak Yong adalah jenis teater tradisi khas Melayu yang tumbuh dan berkembang sejak awal abad ke-20, terutama di Kepri, khususnya di Keke dan Mantang Arang (Bintan Timur) serta di Pulau Panjang (Batam). Memanfaatkan kisah-kisah Melayu klasik sebagai lakonnya, pentas Mak Yong dihadirkan lewat penggabungan unsur ritual, tari, musik, nyanyian, dan dialog. Oleh karena itu, beberapa pengamat seni tradisi kerap menyebut pentas Mak Yong sebagai Opera Melayu.

Pada pentas di awal September 2026 lalu, ada beberapa hal yang menggembirakan. Salah satunya adalah mulai tampaknya regenerasi pemain. Para pemeran Inang dan Dayang, misalnya, banyak diisi oleh anak-anak sekolah dan mahasiswa. Kehadiran mereka memberi warna tersendiri dalam pertunjukan, sekaligus menjadi tanda bahwa Mak Yong masih memiliki daya tarik bagi generasi muda.
Bahkan di antara penonton terlihat anak-anak yang mengikuti gerakan tokoh Awang Pengasuh ketika menyaksikan pertunjukan. Pemandangan kecil seperti ini sebenarnya sangat berarti. Sebab, pewarisan seni tradisi sering kali bermula dari ketertarikan sederhana: melihat, tertarik, kemudian mencoba.
Salah satu pemain muda yang cukup menarik perhatian adalah Lili, pemeran Mak Senik. Kehadiran Lili memperlihatkan bahwa generasi muda sebenarnya memiliki potensi untuk mengisi ruang-ruang penting dalam pertunjukan Mak Yong.
Di sisi lain, sejumlah pemain lama masih menjadi penyangga penting pertunjukan. Mudiah, misalnya, masih dipercaya memerankan tokoh Cik Wang. Wahab masih dipercaya memerankan Inang Pengasuh. Pengalaman para pemain lama seperti ini tentu tidak dapat dipandang sebelah mata. Mereka adalah orang-orang yang menyimpan pengetahuan, pengalaman panggung, gaya permainan, serta ingatan terhadap bentuk-bentuk Mak Yong yang diperoleh melalui proses panjang.
Hal menarik juga terlihat pada pemeran Awang Pengasuh, yang dimainkan oleh Agus. Saya belum mengenal sosok ini. Sepertinya Agus adalah pemain baru. Menurut Tengku Muhammad Satar, Agus adalah pemain yang dibimbingnya dalam 15 tahun terakhir. Hasil kerja keras itu telah membawa Agus sampai ke Kelantan, Malaysia, dan juga pernah tampil di Jakarta. Pengalaman tersebut tentu menjadi modal penting dalam membangun karakter dan teknik permainan.
Gaya permainan Agus, bagi saya, mengingatkan pada sosok almarhum Pak Gani dari Mantang Arang. Ada sesuatu dari gaya dan karakter permainan lama yang masih terasa. Hanya saja, dari sisi energi permainan, masih ada ruang untuk dikembangkan agar karakter Awang tampil lebih kuat dan lebih hidup di atas panggung.
Dari sisi koreografi, tampak pula usaha untuk menghadirkan gerakan yang lebih menarik. Ada upaya pengembangan yang patut diapresiasi. Namun, satu hal yang masih terasa perlu mendapatkan perhatian lebih adalah unsur nyanyian.
Mak Yong bukan hanya permainan lakon dan gerak. Nyanyian merupakan bagian penting dari bangunan pertunjukannya. Ia membantu membentuk suasana, menghidupkan karakter, sekaligus menjadi salah satu identitas musikal Mak Yong. Oleh karena itu, penguatan kemampuan vokal para pemain, terutama generasi muda, agaknya perlu menjadi bagian dari proses pembinaan ke depan.

Dua puluh tahun dan sebuah pertanyaan
Setelah 20 tahun, tentu wajar apabila muncul harapan agar perkembangan teknik Mak Yong dapat terlihat lebih jauh. Harapan tersebut bukan berarti kita ingin mengukur Mak Yong dengan ukuran kesenian modern atau mengubah wajah tradisinya.
Justru sebaliknya. Kesenian rakyat harus tetap memiliki akar pada komunitasnya. Ia lahir dari masyarakat, tumbuh melalui pengalaman para pendukungnya, dan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Tetapi tradisi yang hidup bukanlah tradisi yang berhenti. Di dalam tradisi, meminjam pandangan Pudentia MPSS—peneliti Mak Yong, selalu ada kecairan.
Tradisi memang perlu dijaga bentuk dan nilai dasarnya, tetapi kemampuan para pendukungnya tetap perlu berkembang. Pemain perlu semakin menguasai karakter, gerak, vokal, musik, improvisasi, dan teknik panggung. Dengan begitu, tradisi tetap memiliki wajah aslinya tetapi tampil dengan kemampuan yang semakin matang. Di sinilah mungkin tantangan Mak Yong Keke dari kota Kijang ke depan.
Pemain-pemain lama masih memiliki peran yang sangat penting. Mereka adalah sumber pengetahuan dan pengalaman yang tidak dapat digantikan begitu saja. Namun, pada saat yang sama, generasi muda juga perlu mendapatkan kesempatan yang lebih luas untuk belajar dan secara bertahap mengambil peran.
Dalam tradisi teater rakyat Melayu seperti Mak Yong—juga Mendu dan Bangsawan—memang terdapat pola pewarisan peran yang sangat kuat. Tokoh-tokoh tertentu biasanya telah lama melekat dengan karakter yang dimainkannya. Hal ini dapat dipahami karena sebuah peran bukan sekadar posisi di atas panggung, tetapi merupakan hasil pengalaman panjang.
Oleh karena itu, persoalannya barangkali bukanlah siapa yang harus menggantikan siapa. Yang lebih penting adalah bagaimana pengalaman pemain lama dapat diturunkan kepada generasi berikutnya tanpa memutus mata rantai tradisi. Pemain lama tidak harus kehilangan tempat. Mereka justru dapat menjadi guru dan pembimbing bagi pemain muda. Sementara pemain muda diberi kesempatan untuk belajar, mencoba, dan secara perlahan menemukan kemampuan serta gaya permainannya sendiri.
Dengan cara seperti itu, regenerasi tidak harus dipahami sebagai pergantian generasi secara mendadak. Regenerasi dapat berlangsung sebagai proses pendampingan.

Penonton memberi harapan
Satu hal yang paling menggembirakan dari pertunjukan malam itu justru datang dari penontonnya. Lebih dari 200 orang hadir memenuhi arena. Di tengah derasnya hiburan modern, angka tersebut tentu bukan sesuatu yang kecil. Ia memperlihatkan bahwa masyarakat masih bersedia datang dan memberikan ruang pada seni tradisi.
Lebih menggembirakan lagi ketika melihat anak-anak dan anak muda berada di antara penonton.
Mak Yong ternyata belum kehilangan pesonanya. Maka, pekerjaan kita sekarang bukan sekadar mempertahankan agar Makyong tetap dipentaskan. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa ada generasi yang mau belajar dan meneruskannya.
Minat itu sudah terlihat. Tinggal bagaimana minat tersebut difasilitasi.
Pemerintah, lembaga kebudayaan, komunitas, sekolah, perguruan tinggi, dan para pelaku seni dapat mengambil peran masing-masing. Pelatihan yang berkelanjutan, ruang pertunjukan, dokumentasi, penelitian, serta program pengenalan Mak Yong kepada generasi muda dapat menjadi bagian dari upaya tersebut.
Jangan sampai anak-anak yang malam itu terlihat tertarik hanya berhenti sebagai penonton. Mereka harus diberi kesempatan untuk naik ke panggung. Sebab, pada akhirnya, masa depan Mak Yong bukan hanya berada di tangan para pemain yang sekarang. Masa depan Mak Yong berada di tangan anak-anak muda yang hari ini sedang melihat, mengagumi, menirukan gerakan, dan perlahan-lahan mulai ingin menjadi bagian darinya.
Dua puluh tahun kemudian saya masih ingin kembali bertemu dengan Mak Yong. Saat itu ia masih ada. Masih dimainkan. Penontonnya pun bahkan lebih dari 200 orang. Dan, yang paling penting, di atas panggung sudah mulai terlihat tunas-tunas baru.
Mungkin Mak Yong belum berjalan secepat yang kita harapkan. Tetapi selama masih ada pemain yang setia, anak muda yang mau belajar, dan masyarakat yang datang memenuhi arena, harapan itu tetap ada. Tugas kita adalah memastikan agar Mak Yong tidak sekadar bertahan, tetapi terus tumbuh.
Semoga Mak Yong tidak lagi ter-hoyong-hoyong. Semoga ia dapat melangkah lebih mantap: tetap berakar pada tradisi, tetapi tumbuh dengan tenaga generasi baru. Semoga, dua puluh tahun ke depan saya kembali dapat menyaksikan Mak Yong Keke tampil dengan wajah yang baru. (Syafaruddin, TRADISILISAN.ID Kepulauan Riau)
Foto-foto: Syafaruddin

