Topeng Si Jantuk dan Nasihat Perkawinan
Cekcok rumahtangga, ribut-ribut antar suami-isteri, hal biasa dalam kehidupan sehari-hari. Namun bila cekcok atau ribut-ribut itu lantas berakhir dengan perceraian dan itu hanya gara-gara soal sepele seperti “hilangnya sepotong kepala ikan peda karena digondol kucing”, barangkali itu cuma terjadi dalam tontonan drama klasik Betawi: Topeng Si Jantuk.
Dalam pemahaman umum, kata “topeng” dikenali sebagai benda atau produk kriya seni untuk penutup wajah seseorang (semisal penari atau aktor), untuk mengubah identitas diri pemakainya. Begitu topeng dikenakan di wajah, maka figur si pemakai ‘hilang’ dan yang muncul adalah karakter baru sesuai visi tersirat dari penutup wajah yang dikenakannya.

Namun dalam budaya Betawi, kata ‘topeng’ bisa punya arti berbeda. Orang Betawi biasa menyebut topeng penutup wajah sebagai kedok, tapi bisa juga diartikan sebagai sebentuk ‘tontonan /pertunjukan seni drama klasik Betawi, yang diantara pelakonnya ada yang mengenakan kedok penutup wajah. Sebut misalnya pertunjukan Topeng Blantek ataupun Topeng Si Jantuk yang jadi fokus obrolan kita kali ini.
Topeng Si Jantuk dari Betawi yang kini makin langka itu diboyong dan dipertontonkan di Aula PDS (Pusat Data Sastra) HB Jassin TIM (Taman Ismail Marzuki) Jakarta, pada malam pembukaan Seminar Internasional dan Festival Tradisi Lisan Nusantara (LISAN) XIII, yang berlangsung tanggal 5–7 Agustus 2026.
Topeng Si Jantuk masuk genre ‘teater tanah’ yang awalnya digelar di tanah lapang. Para pelakonnya (hingga kini) bisa bermain dimana saja, tanpa set dekor dan aturan pencahayaan buatan. Membawakan pakem cerita yang khas, ihwal kehidupan rumah tangga orang biasa, diimbuhi lantunan pantun yang dinyanyikan, diiringi musik ensembel Gambang Topeng yang agak mirip musik Gambang Kromong.
Dua Pelakon
Cuma ada dua orang pelakon yang tampil di panggung Topeng Si Jantuk. Yakni sosok Bapak Si Jantuk yang sepanjang pertunjukan mengenakan kedok hitam separuh wajah (diperankan Bang Dani, seniman multitalenta asal Kampung Cisalak, Bogor) serta Emak Si Jantuk (diperankan Mpok Kartini, penari dan aktris panggung yang juga orang Cisalak) yang berakting sembari menggendong boneka bayi yang diidentifikasikan sebagai Si Jantuk. Pemain lainnya hanya berupa suara (diperankan seorang pemusik Gambang Topeng sambil terus bermusik) dalam dialog spesial dengan Bapak Si Jantuk.

Topeng Betawi satu ini diberi nama berdasarkan nama bayi (boneka) yang dipanggil Si Jantuk. Dalam budaya Betawi, orangtuanya pun disapa Bapak Si Jantuk dan Emak Si Jantuk. Lucunya, pasanyan suami-isteri ini satu sama lain juga saling panggil sebagai Jantuk.
“Mau kemana elu, Jantuk?” tanya Bapak Si Jantuk pada Emak Si Jantuk. Yang ditanya sigap menjawab: “Aye mau ke emol (mal), Jantuk. Beli susu buat Si Jantuk, orok kita tersayang,” balas Emak Si Jantuk dengan mesra.
Ciri khas lain pada Topeng Si Jantuk adalah, pertunjukan selalu diawali adegan ‘kejar-kejaran’. Emak Si Jantuk (sambil menggendong bayi Jantuk) melenggang di depan, dikejar Bapak Si Jantuk. Hati itu menyiratkan pesan bahwa dalam.kehidupan cinta dan sosial, pria haruslah mendahulukan dan menghargai peran wanita. Akrab dan hangat (kalau tak bisa disebut mesra) langkah keduanya. Mereka berlagu, bernyanyi, berpantun mengungkap bahagianya berumahtangga.
Ada jeda di mana keduanya merasa lelah ‘kejar-kejaran’. Mereka berhenti, istirahat sembari ngedeprok di lantai. Mendadak, Bapak Si Jantuk merasa lapar. Ingin makan. Teringatlah dia dengan lauk kesukaannya, ikan peda yang (seingatnya) masih tersisa bagian kepalanya, dan dimintanya Emak Si Jantuk menyimpannya baik-baik.
Ternyata, Kepala Ikan Peda kesekaan itu sudah raib, (barangkali) digondol kucing. Bapak Si Jantuk yang sedang lapar, jadi uring-uringan.
“Jantuk…! Elu pegimana, sih…? Kok kepala Ikan Peda kedukaan gua bisa ilang dimaling kucing? Kalo diminta ngurus soal kecil aja elu kagak becus, gimana kalo elu dipercaya ngurus soal gede? Jadi menteri, ngurus negara nyang rakyatnya berjibun?” omel Bapak Si Jantuk. Kalimatnya yang halus dan mesra mendadak hilang, berganti suara kasar, suara setan yang mengangkangi rasa laparnya.
Emak Si Jantuk tak bisa terima diomelin sang suami cuma gara-gara Kepala Ikan Peda hilang digondol kucing. Dia balas berkata keras, dan setan pun tertawa sambil terus ‘ngomporin’ keduanya. Ujung-ujungnya terucap Talak Satu. Bapak Si Jantuk menceraikan Emak Si Jantuk. Keduanya berpisah jalan, padahal belum lama mereka menikah. Sedih, seperti gesekan irama musik Tekhyan yang merintih melilit-lilit.
Cerai dengan istri, hidup menduda, sungguh tak enak. Biasa apa-apa diurusin, kini semua harus kembali dilakukan sendiri. Sepi, dingin, tak ada teman tidur. Bapak Si Jantuk menyesal, demikian juga yang di sebelah sana… Penyesalan yang diungkap lewat tembang kenangan, lewat pantun. Dia ingin balik ngumpul bareng Emak Si Jantuk, cintanya. Ingin sama memgasuh Si Jantuk hingga jadi orang, berguna bagi bangsa dan negara.
Perasaan hati paling dalam itu diungkap pada Bapak Mertuanya (diperankan seorang pemusik Gambang Topeng), yang di ujung dialog setuju Bapak Si Jantuk amprok dan nikah lagi dengan putrinya. Dan lagi, menurut penerawangannya, Bapak Si Jantuk itu orang baik, suami yang bertanggung jawab, dan cuma karena bujukan setan, bercerai cuma karena Kepala Ikan Peda hilang digondol kucing, hihihi…! Dan yang paling penting, Emak Si Jantuk setuju Bapak Si Jantuk kembali ke pelukannya. Aha…!
Penasihat Perkawinan
Demikian kisah drama rumah tangga yang disajikan Topeng Si Jantuk dari Cisalak pimpinan Bang Dani, dalang topeng yang juga pimpinan dan.juru pantun grup musik Gambang Kromong yang juga tampil menyambut kehadiran Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat membuka LISAN XIII.
Penyair dan budayawan Betawi Yahya Andi Saputra yang juga Ketua ATL Jakarta, menyebut bahwa dulu Topeng Si Jantuk ditanggap orang bukan hanya untuk memeriahkan hajat perkawinan, tapi sekaligus sebagai juru penasihat perkawinan.
“Pasangan pengantin baru diwajibkan nonton Topeng Si Jantuk sampai habis, sebelum masuk ke kamar pengantin,” ungkap Yahya yang lulusan S2 Kajian Tradisi Lisan dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.
Dengan pola tradisi saji cerita yang selalu sama dari masa ke masa, tontonan Topeng Si Jantuk memang ibarat penasihat perkawinan bagi pengantin baru, juga sebenarnya buat kita semua.
Pesan moralnya: Persoalan kecil.dan sepele, jangan dibesar-besarkan. Soal besar jangan disepelekan dan dianggap kecil. Dalam urusan rumahtangga, “Yang panjang kudu dipendekkan. Yang pendek dihilangkan saja,” pungkas Yahya. (Heryus Saputro Samhudi: Asosiasi Tradsi Lisan)
